Jumat, 08 Agustus 2008

Kebondowo 20 April 08

Hotbah Kebondowo

Minggu, 20 April 2008

Nats Pemb: Maz. 95 : 6

Am. Hdp. Baru : Pilipi 2 : 1 - 11

Bacaan Nehemia 1 : 1 – 11

Sdr. Pagi ini kita berbicara tentang Nehemia dan doanya untuk umat Israil yang mengalami kesusahan karena: kota Yerusalem tempat mengikat persekutuan antara mereka dengan Allah telah musnah oleh tentara Babel dan tembok-tembok serta pintu gerbangnya telah terbakar. Hal ini membuat mereka mengalami kesusahan serta merasa diri mereka tercela seolah-olah Tuhan tidak berpihak lagi kepada mereka.

Hal ini diketahui dari laporan Hanani salah seorang kerabat yug datang ke puri Suzan bertemu Nehemia untuk melaporkan ttg penderitaan lahir dan batin dari umat Tuhan yg masih tinggal di Yerusalem.

Sebagai seorang beriman ia sangat peka dan solider dengan bangsanya. Sebagai orang yg setia dan taat kepada Tuhan, ia tidak tinggal diam dan bermasabodoh. Nehemia langsung bertindak. Tindakan Nehemia diawali dengan melakukan puasa dan doa syafaat. Rupanya ini cara yg benar bagi semua orang beriman dalam mengatasi persoalan hidup baik pribadi maupun persekutuan, baik di gereja maupun dalam keluarga, baik persoalan kecil ataupun besar.

Pertanyaan bagi kita: Kenapa sampai Nehemia harus berpuasa dahulu sebelum berdoa. Sebab dalam berpuasa orang dapat merenung dan menghayati kembali bagaimana hubungan dengan Allah dan sesama manusia yg kadang2 karena kurang baiknya hubungan itu menyebabkan terjadinya masalah dalam kehidupan. Mehemia melakukan ini mewakili bangsanya di hadapan Allah. Seolah-olah kesalahan bangsanya adalah kesalahannya juga dan kesalahan kaum keluarganya. Ia tahu bahwa jalan keluar dari mengtasai persoalan hidup adalah dataang pada Allah mel;alui doa. Ia pertama-tama memuji Allah sebagai Allah Yang maha Besar, Allah pencipta langit dan buni, Allah yg Dahsyat, Allah yg berpegang kepada perjanjian dan Allah yg penuh dengan kasih setia kepada siapa saja yg setia dan tetap mengikuti perintahNya. Nehemia seolah-olah mengingatkan Allah bahwa dalam kemahakuasaan itu, Allah telah membebaskan orang Israil dari perbudakan Mesir dan menuntun perjalanan menyeberang laut, melintasi padang-gurun selama 40 thn dan dalam kasih setiaNya itu mengantar mereka memasuki tanah Kanan, yg telah di janjikan kepada nenek moyang mereka, Abraham, Ishak dan Jacub. Doa Nehemia ini bukan sebarang doa, tetapi doa yg didasari pada iman dan pengharapan, doa yg lahir dari pergumulan yg luar biasa, pergumulan pribadi, juga pergumulan umat.

Nehemia adalah sosok pemimpin yg pantas kita contohi. Memang kita tidak punya persoalan yg persis sama dengan umat Israil waktu itu. Tetapi panggilan kita sebagai orang berimanb adalah ikut peka dan bertanggungjawab terhadap setiap masalah yg terjadi dalam hidup kita sebagai gereja juga sebagai jemaat dan keluarga. Nehemia menggugat kita yg sebagai orang percaya, agar kita juga kadang2 perlu berpuasa memikirkan perjalan gereja kita, negara dan bangsa kita. Kita juga terpanggil sebagai warga negara untuk ikut bergumul dan mendoakan keadaan bangsa dan negara kita ini..

Sdr. Nehemia tidak saja berdoa tetapi dilanjutkan dengan tindakan. Tuhan selalu amengajar kita umat yg percaya, agar berdoa tetapi juga bekerja. Nehemia setelah bergumul, berpuasa dan berdoa, ia bertindak. Ia pergi ke Yerusalem untuk mulai melakukan pekerjaan pembangunan, sesuai dengan apa yg ia mohon dari Allah dalam doanya. Ia mulai mengajak umat untuk sama-sama melakukan pekerjaan pembangunan, memperbaiki yg telah retak dan memabangun yg jatuh terkulai.

Kita sebagai umat percaya, kita mengambil contoh Nehemia ini untuk bergumul, berpuasa, berdoa sekaligus dengan itu bertindak melakukan pekerjaan: membaharui yg salah, memperbaiki yg retak. Kita sering melakukan kesalahan baik kepada Tuhan juga kepada sesama. Marilah dengan iman dan pengharapan kita mulai melakukan perubahan dan diawali dengan doa, agar kiranya Tuhan yg Mahakuasa, Allah yg pengasih dan Penyang, Panjang sabar dan besar kasih setia, memberi kepada kita kemampuan karena iman agar dapat amemperbaiki hubungan derngan Allah dan derngan sesama, melalui doa dan pengakuan. Kiranya doa dan pergumulan Nehemia, menjadi doa dan pergumulan kita juga.

Amin.

Tidak ada komentar: