Tampilkan postingan dengan label katekisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label katekisasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

katekesasi

Katekisasi GPIB

Dasa titah dan hukum Kasih
Dasar, atau Mukadimah, dari perintah ini dimulai dengan kalimat: “Akulah Tuhan Allahmu”
Yg memberi dasar kepada seluruh Firman. Tidak hanya berhenti bhw Akulah Tuhan Allahmu, tetapi kemudian menyusul tindakan, perbuatanNya, supaya lengkap Akulah Tuhan Allahmu. Allahmu berbuat apa?? Jawabannya : “Yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir”. Jadi nyata ttg sifat Allah: kasih, mengampuni serta “Pembebas”. Sesungguhnya Allah turun ke dalam dunia kita untuk melakukan pekerjaanNya yg dialami dan dipahami oleh manusia, yaitu membebaskan mereka dari status “perbudakan” di Mesir serta membawa mereka keluar kepada kemerdekaan yg terjadi dari ketaatan kepadaNya.
Dasa titah ini diberikan Allah kepada Israil melalui Musa di gunung Sinai yg terukir pada dua lempengan (log) batu:
Log batu I memuat hubungan manusia dengan Allahnya, Hukum I – IV sedangkan log batu yg ke II ttg hubungan manusia dengan sesamanya. hukum V – 10
Log batu I :
1 : Jangan ada padamu Allah lain di hadapanKu
2. Jangan membuat bagimu patung yg menyerupai apapun, jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.
3. Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan.
4. Ingatlah dan kudusukanlah hari Sabath.
Log batu II:
5. Hormatilah ayahmu dan ibumu
6. Jangan membunuh.
7. Jangan berzinah.
8. Jangan mencuri.
9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10. Jangan mengingini apapun yg dipunyai sesamamu. (kel. 20).
Dasa titah itu kemudian diringkaskan Tuhan Yesus : ( 1 – 4) Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,
(5 – 10) Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22 : 37 – 39).
Peringatan mengenai keluarnya Israil dari Mesir, memberi arti dari Dasa Titah ini sehingga perintah2 dalam dasa titah ini tidak boleh dilihat sebagai dan menjadi beban yg memberatkan melainkan harus diterima sebagai landasan, pedoman hidup, petunjuk, pembimbing yg diberikan Allah Pembebas dan Penyelamat bagi kepentingan Israil, juga kepentingan kita orang percaya. Jadi Dasa titah ini sebagai pegangan hidup dalam melaksanakan ibadah di bidang keagamaan (1 –4) tetapi juga kemasyarakatan (5 – 10).
Israil sebagai umat, wajib melaksanakan perintah ini. Petunjuk2 dalam dasa titah ini bertujuan mengarahkan perilaku umat secara pribadi tetapi juga sebagai persekutaun agar melaksanakan perintah ini dalam ketaatan kepada Allah. Memang kita maklumi bahwa tidak ada seorang manusiapun yg sanggup melakukan 10 perintah ini dengan sempurna. Hanya Yesus Kristus sajalah yg menjadi manusia (kecuali dosa) yang menyempurnakan perintah ini menggantikan kita manusia berdosa. Karena ketaatan dalam melakukan perintah ini maka Ia rela dikorbankan mengganti kita supaya penebusanNya membawa keselamatan kepada kita yg tidak sanggup memenuhi 10 perintah ini.

Kauman kidul 25 Nov 2008

Kebaktian Pelkes
Kaumankidul, Rabu, 25 Nov. 2008

Pemb. Mika 2 : 1 – 11: Firman itu “baik” bagi orang yg benar, (melakukannya”)

Mika adalah salah seorang nabi dari 12 nabi kecil PL. Ia seorang petani berasal dari kota kecil Moresyet-Gat. Ia dipanggil menjadi nabi dan bernubuat untuk kaum Jahuda dengan ibukota Yerusalem dan Israil utara dengan ibukota Samaria. Rupanya Mika mengetahui dengan baik semua aktivitas para pemimpin, nabi dan imamnya (3 : 1-4). Mereka tidak melakukan tugasnya sesuai dengan panggilan jabatan mereka. Mereka merancangkan hal-hal yg kurang baik sebelum mereka bangun tidur, supaya apabila mereka bangun langsung mereka lakukan. Tidak ada yg melawan, sebab mereka berkuasa dan berhak untuk melakukan apa saja. Apabila mereka menginginkan sawah-ladang rakyat, mereka merampasnya. Apabila mereka mengingkan rumah, mereka menyerobotnya.. Pendeknya mereka melakukan kejahatan seperti perampasan hak milik oranglain dst. Para petinggi agama, para imam, bersedia melayani karena ada upah, ada uang. (3:11). Ada yg mengaku diri nabi padahal bernubuat dalam keadaan mabuk. Apakah itu seorang nabi??(3:11) Meskipun para pemimpin itu telah melaklukan kejahatan dalam tugas mereka mereka tetap merasa aman. Hati nurani yg baik telah tertutup, mereka tetap merasa aman2 saja dan tidak kuatir seolah-olah tidak akan ada hukuman atas kejahatan yg mereka telah lakukan. Dosa dan kejahatan yg telah dibuat pemimpin Israil, pejabat negeri dan pemuka agama sangatlah menyusahkan masyarakat. Dalam suasana demikian itu, Mika tampil dan mengatakan kepada para pemimpin itu “Celakalah” kata ini mengandung arti negatip sebab didalam kata ini ada nada kematian. Artinya orang-orang yg telah berbuat kejahatan terhadap orang yg tidak bersalah mereka akan dikutuk Tuhan. Bahwa Tuhan yg adil dan penuh belas kasihan itu, tidak akan membiarkan para pemimpin terus melakukan kejahatan dan Tuhan tidak akan membiarkan merteka yg lemah dan miskin ditindas dan diperlakukan tidak adil. Karena itu pada waktunya Tuhan akan bertindak. Mika menyebut bhw waktu Tuhan itu adalah waktu yg sangat mendukacitakan hati dari mereka yg melakukan kejahatan thdp orang kecil. Sebab waktu itu mereka yg jahat akan disingkirkan dari persekutuan umat dan mereka tidak akan memiliki hak lagi dalam persekutuan jemaat Tuhan. Semua harta yg telah di rampas akan dikembalikan Tuhan kepada pemilik yg berhak, yaitu mereka yg lemah dan yg miskin. Dalam kehidupan Israil, hak milik, terutama tanah dianggap sebagai sesuatu yg suci. Tanah adalah milik Tuhan. Jadi apabila seorang memiliki tnah, itu berarti ia memiliki sesuatu yg punya Tuhan, sebab itu harus dijunjung tinggi, dipelihara dan dihormati.
Para nabi paslu menolak apa yg dinubuatkan Mika. Saya ulangi lagi, bhw nubuat Mikha mengandung penyadaran kepada para pemimpin tentang kehendak Tuhan yg sebenarnya. Tuhan yg telah berjanji dengan Israil, Tuhan yg sabar, Tuhan yg selalu menyampaikan kehendakNya, FirmanNya kepada orang benar yg mau melakukannya. Bagaimana nubuat Mika ini kena-mengena dengan kehidupan kita dewasa ini?? Tidak jauh berbeda, sebab para petinggi negara kita (anggota DPR sudah menyalahgunakan jabatan dan tanggungjawab mereka. Kita sering melihat di TV dan membaca dalam koran2. Bukan hal yg rahasia lagi sebab itu tidak perlu malu untuk menyebutkannya. Keadilan dan kebenaran Tuhan akan berlaku sama baik untuk petinggi Israil ttp juga untuk petinggi mnkita masa kini siapa saja baik dalam gereja juga dalam masyarakat.Amin Selanjutnya kita masuk dalam diskusi

Selasa, 17 Januari 2012

Pernikahan

Katekisasi GPIB

Pernikahan.
Setelah beberapa minggu kita membahas seri Muda/i maka bagian ini diakhiri dalam pernikahan. Dalam Kej. 1 : 26, 27 dikatakan bhw manusia diciptakan Allah laki-laki dan perempuan. Mereka adalah serupa dan segambar dengan Allah. Serupa dan segambar dengan Allah itu bukan dimaksudkan semata-mata ttg rupa dan air muka seseorang tetapi penulis kitab Kejadian lebih menitikberatkan pada “hubungan dialogis” dan hubungan “kasih sayang” antara Allah dan manusia. Makna hubungan itu demikian: Allah bertanya, dan manusia menjawab, atau manusia meminta dan Allah memberi. Namun dialog itu selalu harus berlangsung dalam suasana kasih dan kesetiaan.
Selanjutnya dikatakan bahwa Allah melihat manusia itu seorang diri saja lalu Ia menciptakan seorang perempuan dari tulang rusuk laki-laki (Kej, 2 : 18-24) Allah mengambil prakarsa untuk menciptakan “penolong” yg sepadan dengan diri manusia laki-laki. Allah membantu manusia laki-laki mengenal dirinya sendiri melalui “gambarnya” pada diri seorang manusia perempuan. Jadi manusia menjadi seseorang berpribadi bila ia berjumpa dengan sesamanya. Dengan kata lain Ke laki-laki an seorang pria (sifat, watak, sikap) tidak akan berkembang bila tidak ada perempuan, sebaliknya ke-perempuan-an seorang wanita (sifat, perasaan, kelembutan, kelemahan) tidak akan berkembang bila tidak berjumpa dengan manusia laki-laki. Dealam hubungan laki-laki dan perempuan seluruh kepribadian manusia seutuhnya akan nampak jelas. Dengan demikian yg disebut manusia seutuhnya adalah laki-laki dan perempuan, sepasang manusia.

Jadi pernikahan haruslah berangkat dari dasar pandngan yg benar ttg hubungan antara manusia dengan Allah dan antara manusia dengan pasangannya. ” Dalam pernikahan manusia laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam satu ikatan cinta kasih” Dalam pernikahan mereka melanjutkan “kasih mesra” mereka secara “bebas” dan bertanggungjawab.

Pernikahan sebagai peristiwa sosial
Pernikahan dalam pandangan orang percaya merupakan suatu kesepakatan sosial yg diberi dasar hukum dan diisi dengan makna religius. Jadi pernikahan adalah suatu peristiwa sosial yg diresmikan melalui kekuasaan hukum tertinggi masyarakat, sedangkan gereja berperan sebagai lembaga keagamaan yg memohonkan berkat Tuhan bagi pasangan yg telah diresmikan oleh lembaga tertinggi tsb. Kita sebagai warga masyarakat yg hidup kita diatur oleh hukum dan aturan masyarakat, maka sebagai warga masyarakat wajib mentaati hukum tersebut. Karena itu pernikahan antar warga masyarakat harus disyahkan sesuai dengan aturan dan undang-undang yg berlaku dalam masyarakat.

Pernikahan dilihat dari iman Kristen.

Pernikahan Kristen tidak terlepas dari kesaksian Alkitab (Kej. 2 : 18, 21-24 dan meyakini hal itu sebagai campurtangan Allah sendiri dalam kehidupan pernikahan mereka. Berdasarkan karya Allah itu mereka yg memulainya dengan “kasih Allah” harus berjanji bahwa apa yg telah disatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan/diceraikan oleh manausia (Mat. 19 : 6). Dengan demikian pernikahana harus diyakini bahwa Allah ikut campur tangan dalam kehidupan mereka karena itu pernikahan harus dipelihara keutuhannya dengan kasih dan iman. Dalam Hosea 2 : 15, 19, Ef 5 : 22 – 33 melukiskan pernikahan sebagai lambang hubungan kasih Allah dengan umatNya. Lambang ini mengarah kepada hubungan saling mengenal antara kedua orang dalam kasih sayang yg berlangsung pada “hubungan suami-istri”. Oleh karena itu setiap pernikahan dalam pandangan iman Kristen harus mencerminkan kasih Allah yg menyelamatkan manusia, sehingga kesadaran itu mendorong manusia yg menikah supaya memelihara kekudusan pernikahan mereka yg telah diberkati Allah.

Alam dan sumberdaya

Katekisasi GPIB

Minggu, 5 Oktober 2008

Alam dan sumber daya
Alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Allah mempercayakan alam semesta ini untuk diolah dan dikelola secara bertanggungjawab bagi kesejahteraan umat manusia pada masa kini dan pada masa yang akan datang. Minggu lalu kita telah mendengar “perintah Tuhan kepada manusia” (Kej. 1 : 28b) berkaitan dengan pengusahaan dan pemeliharaan alam. Kita juga perlu mengetahui akibat buruk deari pengolahan secara tidak bertanggungjawab atas alam ciptaan Tuhan ini. Kita juga perlu mengetahui tindakan-tindakan positip apa yg dapat dilakukan oleh kita sebagai anak-anak Tuhan dalam penyelamatan alam sermesta ini.
Pada mulanya Tuhan menciptakan alam semesta beserta dengan makhluk-mahkluk di dalamnya “semuanya itu baik adanya” (Kej. 1 : 9b, 10b, 12b, 17b, 25b. Dengan demikian nampak kepada kita bhw apa yg diperbuat Allah “semuanya baik dan sempurna”. Saat kejatuhan manusia ke dalam dosa alam semesta ini menjadi rusak. Jadi alam semesta ini mengalami akibat buruk dari pemberontakan manusia melawan Allah Penciptanya.
Kitab Kejadian memberikan kesaksian positif tentang keberadaan alam: ciptaan itu indah dan baik, harmonis dan saling melengkapi. Dalam keadaan yg serba indah itulah Allah memerintahkan manusia untuk mengolah dan mengelolanya (Kej. 1 : 28) Pelimpahan dan tugas tetap berada dalam garis hubungan yang benar dengan Allah. Namun serentak dengan pelimpahan mandat ilahi itu, Allah memberikan ketetapan (Kej. 2 : 15, 16). Ketentuan itu membatasi kebebasan manusia, juga sekaligus meletakkan dasar pertanggungjawaban tentang kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Ketentuan dan ketetapan itu demikian: Semua yg ada dalam taman ini boleh kamu makan tetapi “buah pohon yg ada di tengah taman itu tidak boleh kamu makan”. Larangan itu merupakan “batu sandngan” atau tolok ukur untuk menilai sampai dimana kesetiaan dan ketaatan manusia kepada Penciptanya.
Ketika manusia melanggar ketetapan itu, ternyata ia lebih memilih kata hatinya sendiri dengan demikian menolak perintah dan kehendak yang baik dari Penciptanya. Sebagai akibat dari ketidaktaatan itu, manusia jatuh ke dalam dosa ( Kej. 3 : 1 – 24). Kejatuhan itu tidak saja sebagai akibat putus hubungan manusia dengan Allah tetapi juga berakibat langsung pada hubugan dengan makhluk ciptaan lainnya. Tindakan manusia yg salah itu telah menyeret seluruh ciptaan lain masuk ke dalam kehancuran dan pengrusakkan. Semakin manusia menjauhkan diri dari Allah dan merncari kepentingan sendiri, semakin itu pula ia merusakkan diri dan seluruh simpul hubungan-hubungan dengan alam semesta.
Dapat dikatakan bahwa “penyelamatan manusia” merupakan perbaikan dasar bagi seluruh hubungannya dengan alam semesta. Penebusan Allah yang berisi kasih menjadi landasan pacu untuk memulai masa baru dalam kelimpahan anugerahNya bukan saja bagi manusia tetapi juga manusia dengan alam. Penebusan itu dalam satu segi kita terima sebagai anugerah Allah yg dianugerahkan melalui akal budi (ilmu pengetahuana dan teknologi) kepada manusia sehingga dapat dimanfaatkan bagi kesejahateraan seluruh umat manusia pada msa kini juga pada masa depan.

Sabtu, 03 Desember 2011

MANUSIA

Katekisasi GPIB

MANUSIA

Manusia yang diciptakan Allah pada hari terakhir dari pekerjaan penciptaan itu, kini telah berdosa karena kesalahan mereka sendiri. Namun Allah tidak membiarkan pekerjaanNya terus menerus berada dalam kuasa dosa. Melalui Karya Penyelamatan Yesus Kristus yang berpuncak pada kayu salib, manusia ditarik kembali datang kepada Allah dan diperdamaiakan melalui Yesus Kristus. Karena pekerjaan Penyelamatan oleh Yesus Kristus itulah kini manusia menjadi kawan sekerja Allah dalam mengelola serta memeliahara alam semesta (Kej. 1 : 27 – 29). Kini tanggungjawab pemelihara serta pengelola alam semesta ini diserahkan juga kepada kita sebagai kawan sekerja Allah. Karena itu kita manusia bertanggungjawab penuh dalam memelihara serta mengelola alam ini dengan cara yg sebaik-baiknya demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Tidak ada seorang manusiapun yg mengetahui bagaimana awal mulanya langit dan bumi serta semua makhluk hidup yg ada di atas bumi ini dijadikan Allah. Kemudian Allah menciptakanb manusia laki-laki dan perempuan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1 : 27) dengan maksud agar manusia bekerja bersama Allah dalam mengelola serta memelihara alam ciptaan ini. Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan menunjukkan “hubungan khusus antara Allah dan manusia” sebagai Tuhan yg menciptakan dan makhluk ciptaanNya. Allah yang berpribadi selalu berhubungan dengan manusia yang berkepribadian pula Hubungan khusus ini merupakan keunikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang dibedakan dari makhluk ciptaan yang lain. Dalam hubungan itu manusia dapat hidup hanya karena Allah yang menganugerahkan kehidupan ini kepada manusia. Lihat “ Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidungnya – Kej. 2 : 7). Karena Allah yang memberi hidup maka manusia mempunyai tanggungjawab kepada Allah sebagai Penciptanya yaitu memelihara serta mengelola semua yang telah diciptakan. (Kej. 1 : 27 - 30). Bukan hanya itu saja tetapi manusia yg mendapat tugas dari Allah sebagai manausia laki-laki dan manusia perempuan maka masing-masing juga harus bertanggungjawab terhadap dirinya dan diri sesamanya. (Kej. 2 : 16,17).

Pada pihak lain, Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan, penciptaan jenis kelamin yg berbeda itu, tidak dimaksudkan pemisahan kesatuan hidup, namun justru sebaliknya didalam perbedaan itu keduanya harus melihat keutuhan dan integritas kemanusiaannya. Kepada kesatauan hidup itulah Tuhan Allah mempercayakan tugas sebaagai mandatarisNya. Karena itu dalam keutuhan manusia (laki-laki- perempuan) manusia bertanggungjawab kepada Tuhan. Tanggungjawab itu salahsatunya adalah ikut memelihara keutuhan hidup ciptaan yg lain. Namun kepada manusia laki-laki dan perempuan ada tugas dari Allah sesuai dengan peran dan kodrat kemanusiaannya.
Jika kita membaca Kej. 3 maka muncul kesan yg kuat tentang manusia yang salah menggunakan kebebasan serta kuasa yang telah diberikan Allah kepada mereka. Adam dan Hawa diminta untuk memberikan pertanggunganjawab penuh atas hidup yang telaha mereka terima dari Allah Keputusan dan tingkah lakunya telah menyebabkan kehancuran sejarah kemanusiaan manusia. Dengan demikian penghakiman dan penghukuman Allah akan dinyatakan kepada manusia dalam keberadaannya sebagai laki-laki dan perempuan secara utuh. Mereka lupa akan kedudukan sebagai kawan sekerja Allah. Seharusnya sebagai mitra Allah mereka harus menjaga hubungan dan harus hidup dalam kepatuhan, hubungan yg benar dengan PenciptaNya. Relasi antara manusia dengan Allah harus selalu ditumbuhkembangkan dengan baik, sehingga setiap perilaku dan perbuatan manusia harus selalu menunjukkan sikap takut dan ketaatan pada kehendak Penciptanya. Namun dalam Kej. 3 kita lihat bahwa manusia alebih mengikuti kata hati sendiri. Kata hati mereka telah berbicara sehingga mereka menolak dan melanggar serta memberontak melawan Allah. Karena itu hubungan yang mesra tadi kini menjadi terganggu dan akhirnya terputus Manusia jatuh ke dalam dosa (Kej. 3).

Sabtu, 16 April 2011

Pertunangan

Pelajaran Katekisasi
PERTUNANGAN

Dalam pergaulan muda-mudi seseorang mulai belajar memberikan dirinya kepada orang lain dan sebaliknya menerima diri orang lain dalam hidup mereka. Dalam pergaulan, seseorang ingin memiliki “TEMAN” dan sebaliknya orang ingin “mencintai” dan “dicintai”. Sama seperti dalam pergaulan muda/i dalam pertunanganpun harus didasarkan pada Firman Tuhan: “Inilah perintahKu, “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh.15 : 12) Seluruh cinta dan kasih sayang kepada sesama harus didasarkan pada pemahaman yg benar ttg Kasih Allah kepada dirinya sendiri: “mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Bila manusia kurang memahami kasih Allah dengan benar maka akan terjadi mencintai dan mengasihi akan tertuju semata-mata kepada kepentingan dirinya sendiri (Pilipi 2 : 1 – 4). Dengan demikian makna pertunangan dapat dipahami atas dasar “Kasih Allah” dan kehendak Allah dalam kehidupan manusia.

Masa pertunangan merupakan fase kelanjutan dari hubungan yg terbina selama “masa bergaul” (masa perkenalan) atau dalam masa pergaulan muda/i . Pertunangan termasuk dalam ketegori “Pergaulan Intim” bukan dalam konotasi “hubungan suami-istri”. Pertunangan merupakan perkembangan dari hubungan persahabatan/pergaulan biasa tetapi yg diisi dengan bibit cinta yg tulus yg nantinya akan berbuah pada pernikahan. Pergaulan yg benar akan meningkat kepada pertunangan dan diharapkan mencapai tujuan akhir dalam membina kehidupan abadi dalam “pernikahan: Dalam pertunangan, masing2 berusaha mengadakan pendekatan emosional, pikiran, gaya-hidup dalam suasana keterbukaan menuju kepada kematangan mental, spiritual menjelang pernikahan. Dalam masa pertunangan, muda/i ini secara intensip berupaya mengenal dirinya masing2 termasuk hal2 yg tidak disukai bersama. (kecocokkan-ketidakcocokkan). Banyak hal lagi yg mesti ditata pada masa ini terlebih-lebih penyesuaian diri serta pengendalian diri dalam kaitannya dengan sexualitas. Pasangan harus mendasarkan hubungan mereka pada kesucian Allah seperti yg disaksikan dalam Kej. 1 : 31 Lalu Allah melihat semuanya itu “sungguh amat baik”. Kesucian yg Allah karuniakan kepada mereka itu harus dipelihara sampai kepada masa pernikahan. Menjaga serta memelihara kesucian selama masa pertunangan ini didasarkan pada Firman Tuhan Kel. 20 : 14,17 “Jangan berzinah” dan jangan mengingini sesuatu yg bukan milikmu. Dengan mengingat akan perintah Tuhan, larangannya, juga hukumannya (Im. 18 : 29 maka orang muda memohon kepada Tuhan agar kiranya mereka dapat mengatasi “pergaulan bebas” (terutama dalam masalah hubungan sexual). Maksud Tuhan menyatakan hukum kekudusan itu tidak lain agar menjaga Israil supaya tidak ikut melakukan tindakan2 yg sama yg dilakukan bangsa2 sekitar mereka (bangsa kafir) sehingga nama Tuhan tidak dimuliakan.

Tentang pernikahan ini Tuhan berfirman “Dan laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (Kej. 2 : 24). Keindahan masa pertunangan dilukiskan dalam Alkitab (Kidung Agung 8 : 6,7 sebagai suatu keindahan cinta-kasih, dan hal itu harus dipertahankan menuju ke pernikahan, juga memasuki kehidupan sampai kekal abadi. Orang yg sudah matang dalam berpacaran, kemudian bertunangan, mereka memilih dan memutuskan supaya hubungan mereka itu disahkan dalam pernikahan negara dan memohon berkat Allah melalui pernikahan gereja.

Evaluasi Katekisasi

Soal- soal Evaluasi Katekisasi

Minggu, 20 Sept. 2009

1. a. Siapakah manusia dalam konteks pencipta langit dan bumi??
b Bagaimanakah tugas manusia dalam karya penciptaan langit dan bumi ini?? Jelaskan jawab saudara.

2. Manusia disebut makhluk berdosa. Pada saat manakah (dalam Alkitab) manusia itu jatuh kedalam dosa??Jelaskan jawaban sdr.

3. Seseorang disebut berdosa kalau ia berbuat sesuatu yg bertentangan dengan kehendak Allah??
Sebutkan contoh perbuatan itu dengan jelas.

4. Jika anda mengambil barang teman secara sembunyi-sembunyi dan ingin memiliki barang itu, apakah perbuatan ini disebut dosa?? Jelaskan jawaban anda.

4a. Setelah beberapa waktu lamanya anda merasa tidak enak lalu mengembalikan barang itu dan teman anda kaget. Bagaimana sikap dan tindakan anda terhadap teman anda??
4b. Seseorang berpikir: “baiklah saya ambil barang pak Kris yg sangat kecil sebab rupanya pak Kris kurang peduli dengannya daripada saya mengambil barang pak Jim yg agak lumayan besar. Dari kedua perbuatan ini dosa mana yg lebih besar??

5.Jika anda sebagai manusia merasa diri berdosa karena “berbuat dan berpikir” kepada siapakah anda datang meminta ampun atas perbuatan berdosa itu??

5a. Apakah ayah dan ibu anda dapat mengampuni segala salah dan dosa anda? Jelaskan jawaban anda.

5b. Benarkah Yesus Kristus itu Manusia sejati dan Allah sejati?? Jelaskan jawaban anda!!

5c. Jika Yesus itu manusia sejati, pasti Ia berbuat dosa sebab hakekat manusia adalah berdosa??


Jelaskan jawabanmu

Selasa, 05 April 2011

Soal Katekisasi

Pertanyaan:


A. Allah Bapa:
1. Bagaimana Anda dapat mengenal Allah Bapa, padahal Allah itu tidak bisa dilihat maupun dipegang?? Jelaskan dan berikan contoh.
2. Pada awal mula saat langit dan bumi diciptakan apakah Allah Bapa sendiri yang melakukan karya penciptaan itu? Jelaskan jawaban anda!
3. Kalau disebut Allah Bapa Pencipta langit dan buni, apakah hanya Pencipta saja? Jelaskan jawaban Anda
4. Jika dalam doa kepada Allah, Anda menyebutkan “Yang bersemayam dalam Kerajaan Sorga”. Kerajaan Sorga menunjukkan tempat. Di manakah tempatnya? Jelaskan jawaban Anda!


B. Yesus Kristus:
1. Siapakah Yesus Kristus itu?
2. Apakah Yesus Kristus juga Allah? Jerlaskan jawaban Anda
3. Jelaskan bahwa Yesus Kristus itu sudah ada sebelum Dia lahir
4. Sebagai orang beriman, bagaimana hubungan Anda dengan Yesus Kristsus dalam hidup Anda?



C. RohKudus:
1. Siapakah RohKudus itu?
2. Apakah RohKudus juga Allah? Jelaskan jawaban Anda
3. Di manakah tempat tinggal RohKudus dalam kehidupan Anda?
4. Apakah RohKudus itu baru ada pada saat diturunankan pada hari Pentakosta (Kisah para Rasul 2 : 1 – 4 ) Jelaskan jawab Anda

Jelaskan jawabmu.

Selasa, 02 Februari 2010

Dasa Titah dan Hukum Kasih

Katekisasi GPIB

Dasa titah dan hukum Kasih

Dasar, atau Mukadimah, dari perintah ini dimulai dengan kalimat: “Akulah Tuhan Allahmu”

Yg memberi dasar kepada seluruh Firman. Tidak hanya berhenti bhw Akulah Tuhan Allahmu, tetapi kemudian menyusul tindakan, perbuatanNya, supaya lengkap Akulah Tuhan Allahmu. Allahmu berbuat apa?? Jawabannya : “Yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir”. Jadi nyata ttg sifat Allah: kasih, mengampuni serta “Pembebas”. Sesungguhnya Allah turun ke dalam dunia kita untuk melakukan pekerjaanNya yg dialami dan dipahami oleh manusia, yaitu membebaskan mereka dari status “perbudakan” di Mesir serta membawa mereka keluar kepada kemerdekaan yg terjadi dari ketaatan kepadaNya.

Dasa titah ini diberikan Allah kepada Israil melalui Musa di gunung Sinai yg terukir pada dua lempengan (log) batu:

Log batu I memuat hubungan manusia dengan Allahnya, Hukum I – IV sedangkan log batu yg ke II ttg hubungan manusia dengan sesamanya. hukum V – 10

Log batu I :

1 : Jangan ada padamu Allah lain di hadapanKu

2. Jangan membuat bagimu patung yg menyerupai apapun, jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya.

3. Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan.

4. Ingatlah dan kudusukanlah hari Sabath.

Log batu II:

5. Hormatilah ayahmu dan ibumu

6. Jangan membunuh.

7. Jangan berzinah.

8. Jangan mencuri.

9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

10. Jangan mengingini apapun yg dipunyai sesamamu. (kel. 20).

Dasa titah itu kemudian diringkaskan Tuhan Yesus : ( 1 – 4) Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,

(5 – 10) Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22 : 37 – 39).

Peringatan mengenai keluarnya Israil dari Mesir, memberi arti dari Dasa Titah ini sehingga perintah2 dalam dasa titah ini tidak boleh dilihat sebagai dan menjadi beban yg memberatkan melainkan harus diterima sebagai landasan, pedoman hidup, petunjuk, pembimbing yg diberikan Allah Pembebas dan Penyelamat bagi kepentingan Israil, juga kepentingan kita orang percaya. Jadi Dasa titah ini sebagai pegangan hidup dalam melaksanakan ibadah di bidang keagamaan (1 –4) tetapi juga kemasyarakatan (5 – 10).

Israil sebagai umat, wajib melaksanakan perintah ini. Petunjuk2 dalam dasa titah ini bertujuan mengarahkan perilaku umat secara pribadi tetapi juga sebagai persekutaun agar melaksanakan perintah ini dalam ketaatan kepada Allah. Memang kita maklumi bahwa tidak ada seorang manusiapun yg sanggup melakukan 10 perintah ini dengan sempurna. Hanya Yesus Kristus sajalah yg menjadi manusia (kecuali dosa) yang menyempurnakan perintah ini menggantikan kita manusia berdosa. Karena ketaatan dalam melakukan perintah ini maka Ia rela dikorbankan mengganti kita supaya penebusanNya membawa keselamatan kepada kita yg tidak sanggup memenuhi 10 perintah ini.

Jumat, 14 Agustus 2009

Pernikahan

Katekisasi GPIB

Setelah beberapa minggu kita membahas seri Muda/i maka bagian ini diakhiri dalam pernikahan. Dalam Kej. 1 : 26, 27 dikatakan bhw manusia diciptakan Allah laki-laki dan perempuan. Mereka adalah serupa dan segambar dengan Allah. Serupa dan segambar dengan Allah itu bukan dimaksudkan semata-mata ttg rupa dan air muka seseorang tetapi penulis kitab Kejadian lebih menitikberatkan pada “hubungan dialogis” dan hubungan “kasih sayang” antara Allah dan manusia. Makna hubungan itu demikian: Allah bertanya, dan manusia menjawab, atau manusia meminta dan Allah memberi. Namun dialog itu selalu harus berlangsung dalam suasana kasih dan kesetiaan.

Selanjutnya dikatakan bahwa Allah melihat manusia itu seorang diri saja lalu Ia menciptakan seorang perempuan dari tulang rusuk laki-laki (Kej, 2 : 18-24) Allah mengambil prakarsa untuk menciptakan “penolong” yg sepadan dengan diri manusia laki-laki. Allah membantu manusia laki-laki mengenal dirinya sendiri melalui “gambarnya” pada diri seorang manusia perempuan. Jadi manusia menjadi seseorang berpribadi bila ia berjumpa dengan sesamanya. Dengan kata lain Ke laki-laki an seorang pria (sifat, watak, sikap) tidak akan berkembang bila tidak ada perempuan, sebaliknya ke-perempuan-an seorang wanita (sifat, perasaan, kelembutan, kelemahan) tidak akan berkembang bila tidak berjumpa dengan manusia laki-laki. Dealam hubungan laki-laki dan perempuan seluruh kepribadian manusia seutuhnya akan nampak jelas. Dengan demikian yg disebut manusia seutuhnya adalah laki-laki dan perempuan, sepasang manusia.

Jadi pernikahan haruslah berangkat dari dasar pandngan yg benar ttg hubungan antara manusia dengan Allah dan antara manusia dengan pasangannya. ” Dalam pernikahan manusia laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam satu ikatan cinta kasih” Dalam pernikahan mereka melanjutkan “kasih mesra” mereka secara “bebas” dan bertanggungjawab.

Pernikahan sebagai peristiwa sosial

Pernikahan dalam pandangan orang percaya merupakan suatu kesepakatan sosial yg diberi dasar hukum dan diisi dengan makna religius. Jadi pernikahan adalah suatu peristiwa sosial yg diresmikan melalui kekuasaan hukum tertinggi masyarakat, sedangkan gereja berperan sebagai lembaga keagamaan yg memohonkan berkat Tuhan bagi pasangan yg telah diresmikan oleh lembaga tertinggi tsb. Kita sebagai warga masyarakat yg hidup kita diatur oleh hukum dan aturan masyarakat, maka sebagai warga masyarakat wajib mentaati hukum tersebut. Karena itu pernikahan antar warga masyarakat harus disyahkan sesuai dengan aturan dan undang-undang yg berlaku dalam masyarakat.

Pernikahan dilihat dari iman Kristen.

Pernikahan Kristen tidak terlepas dari kesaksian Alkitab (Kej. 2 : 18, 21-24 dan meyakini hal itu sebagai campurtangan Allah sendiri dalam kehidupan pernikahan mereka. Berdasarkan karya Allah itu mereka yg memulainya dengan “kasih Allah” harus berjanji bahwa apa yg telah disatukan oleh Allah tidak boleh dipisahkan/diceraikan oleh manausia (Mat. 19 : 6). Dengan demikian pernikahana harus diyakini bahwa Allah ikut campur tangan dalam kehidupan mereka karena itu pernikahan harus dipelihara keutuhannya dengan kasih dan iman. Dalam Hosea 2 : 15, 19, Ef 5 : 22 – 33 melukiskan pernikahan sebagai lambang hubungan kasih Allah dengan umatNya. Lambang ini mengarah kepada hubungan saling mengenal antara kedua orang dalam kasih sayang yg berlangsung pada “hubungan suami-istri”. Oleh karena itu setiap pernikahan dalam pandangan iman Kristen harus mencerminkan kasih Allah yg menyelamatkan manusia, sehingga kesadaran itu mendorong manusia yg menikah supaya memelihara kekudusan pernikahan mereka yg telah diberkati Allah.

Pertunangan

Pelajaran Katekisasi

PERTUNANGAN

Dalam pergaulan muda-mudi seseorang mulai belajar memberikan dirinya kepada orang lain dan sebaliknya menerima diri orang lain dalam hidup mereka. Dalam pergaulan, seseorang ingin memiliki “TEMAN” dan sebaliknya orang ingin “mencintai” dan “dicintai”. Sama seperti dalam pergaulan muda/i dalam pertunanganpun harus didasarkan pada Firman Tuhan: “Inilah perintahKu, “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh.15 : 12) Seluruh cinta dan kasih sayang kepada sesama harus didasarkan pada pemahaman yg benar ttg Kasih Allah kepada dirinya sendiri: “mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Bila manusia kurang memahami kasih Allah dengan benar maka akan terjadi mencintai dan mengasihi akan tertuju semata-mata kepada kepentingan dirinya sendiri (Pilipi 2 : 1 – 4). Dengan demikian makna pertunangan dapat dipahami atas dasar “Kasih Allah” dan kehendak Allah dalam kehidupan manusia.

Masa pertunangan merupakan fase kelanjutan dari hubungan yg terbina selama “masa bergaul” (masa perkenalan) atau dalam masa pergaulan muda/i . Pertunangan termasuk dalam ketegori “Pergaulan Intim” bukan dalam konotasi “hubungan suami-istri”. Pertunangan merupakan perkembangan dari hubungan persahabatan/pergaulan biasa tetapi yg diisi dengan bibit cinta yg tulus yg nantinya akan berbuah pada pernikahan. Pergaulan yg benar akan meningkat kepada pertunangan dan diharapkan mencapai tujuan akhir dalam membina kehidupan abadi dalam “pernikahan: Dalam pertunangan, masing2 berusaha mengadakan pendekatan emosional, pikiran, gaya-hidup dalam suasana keterbukaan menuju kepada kematangan mental, spiritual menjelang pernikahan. Dalam masa pertunangan, muda/i ini secara intensip berupaya mengenal dirinya masing2 termasuk hal2 yg tidak disukai bersama. (kecocokkan-ketidakcocokkan). Banyak hal lagi yg mesti ditata pada masa ini terlebih-lebih penyesuaian diri serta pengendalian diri dalam kaitannya dengan sexualitas. Pasangan harus mendasarkan hubungan mereka pada kesucian Allah seperti yg disaksikan dalam Kej. 1 : 31 Lalu Allah melihat semuanya itu “sungguh amat baik”. Kesucian yg Allah karuniakan kepada mereka itu harus dipelihara sampai kepada masa pernikahan. Menjaga serta memelihara kesucian selama masa pertunangan ini didasarkan pada Firman Tuhan Kel. 20 : 14,17 “Jangan berzinah” dan jangan mengingini sesuatu yg bukan milikmu. Dengan mengingat akan perintah Tuhan, larangannya, juga hukumannya (Im. 18 : 29 maka orang muda memohon kepada Tuhan agar kiranya mereka dapat mengatasi “pergaulan bebas” (terutama dalam masalah hubungan sexual). Maksud Tuhan menyatakan hukum kekudusan itu tidak lain agar menjaga Israil supaya tidak ikut melakukan tindakan2 yg sama yg dilakukan bangsa2 sekitar mereka (bangsa kafir) sehingga nama Tuhan tidak dimuliakan.

Tentang pernikahan ini Tuhan berfirman “Dan laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (Kej. 2 : 24). Keindahan masa pertunangan dilukiskan dalam Alkitab (Kidung Agung 8 : 6,7 sebagai suatu keindahan cinta-kasih, dan hal itu harus dipertahankan menuju ke pernikahan, juga memasuki kehidupan sampai kekal abadi. Orang yg sudah matang dalam berpacaran, kemudian bertunangan, mereka memilih dan memutuskan supaya hubungan mereka itu disahkan dalam pernikahan negara dan memohon berkat Allah melalui pernikahan gereja.

Selasa, 21 Oktober 2008

Pengertian tentang Jemaat

Katekisasi GPIB

Pengertian tentang Jemaat


Beberapa minggu yg lalu kita telah berbicara tentang Gereja sebagai “Tubuh Kristus” di dunia ini. Gereja tidak terlepas dari anggota jemaaatnya sebab persekutuan jemaat itulah yg kita sebut sebagai “Gereja”

Berbicara ttg Jemaat, Alkitab selalu mengaitkannya dengan Kristus, sebab jemaat tidak pernah berdiri sendiri tanpa mempunyai hubungan yg mendasar dengan Kristus, sehingga antara Kristus dan Jemaat terdapat satu kesatuan yg tidak dapat dipisahkan.. Alkitab Perjanjain Baru melukiskan kesatuan ini dengan berbagai rumusan a.l.: Jemaat adalah anggota dari satu tubuh (Ikor. 12 :12,13), Jemaat adalah anggota tubuh dan Yesus Kristus, Kepala Tubuh ( Ef 1 :22, 23, 5 : 23. Kolose 1 : 18). Jemaat adalah batu yg hidup IPet. 2 : 5, Yesus adalah Pokok Anggur dan jemaat adalah 5rantingnya (Yoh. 15 : 5), Yesus adalah Gembala, jemaat adalah dombaNya (Yoh. 10 : 11, 14,150. Dari gambaran tadi, jelas nampak ada hubungan yg erat antara Yesus Kristus dengan jemaatNya. Dengan demikian, jemaat tidak dapat dipahami terlepas dari Kristus. Karena hubungan yang demikian eratnya maka tidak diperkenankan adanya perbedaan atau rasial di antara warga jemaat tentang asal, suku, warna kulit, bahasa, kedudukan sosal dalam masyarakat, sebab Jemaat adalah satu tubuh dan Yesus Kristus sebagai Kepalanya ( Ikor 12 : 13). Jemaat itu ada karena kehendak Kristus karena itu segala kuasa apapun di dunia ini tidak dapat mengalahkannya sebab jemaat selalu dipelihara dan dihidupkan oleh Pendirinya (Mat. 16 : 18, 19). Jemaat adalah orang percaya yg dibaptis setelah mendengar dan amenerima pemberitaan Firman Tuhan (Kisah 2 : 41). Mereka yg terdiri dari berbagai suku bangsa dipanggil dan dihimpun menjadi satu oleh kuasa Firman dan Rohkudus. Kristus selalu mencari dan menghimpun semuanya yg tercerai-berai serta rela berkorban bagi mereka dan bagi kita juga. (Yoh. 11 : 52).

Karena itu kalau berbicara ttg Jemaat tidak ada seorangpun yg perlu merasa sombong dan memperkenalkan diri sebagai pendiri jemaat. Jemaat adalah persekutuan orang percaya yg dipanggil keluar oleh Allah bukan oleh orang-seorang secara pribadi. Persekutuan orang percaya yg terpanggil ini bertumbuh, hidup dan berkembang oleh kasih Yesaus Kristus dan oleh kuasa Rohkudus, dan oleh pertumbuhan ini mereka menyaksikan kasih Allah melalui Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian yg kita kenal sebagai Tri Panggilan Gereja. Tri panggilan gereja ini diatur secara tertib organisatoris di atas satu Dasar ( Ikor 3 : 11) dan satu Kepala (Kol. 1 : 18, 2 : 19).

Dalam persekutuan (Koinonia) semuanya amendapat bagian dalam keselamatan yg dianugerahkan Allah dalam Kristus, yaitu keselamatan untuk semua manusia. Dengan demikian persekutuan tersebut tidak boleh menutup diri tetapi harus terbuka bagi semua orang. Melalui Kesaksiannya jemaat terpanggil untuk membagikan keselamatan yg telah mereka terima sebagai anugerah dari Kristus kepada oramg lain. Pembagian anugertah ini disampaikan melalui pemberitaan/Kesaksian (Marturia). Isi kesaksian ini merupakan penggenapan janji Allah dalam Kristus kepada semua orang percaya. Jadi jelas, jemaat terpanggil untuk mengabarkan Injil Kristus yg berisi Kabar Keselamatan (Kabar Baik) melalui Tri Panggilan Gereja : Persekutuan – (Koinonia), Kesaksian – (Marturia), Pelayanan – Diakonia.

Rabu, 18 Juni 2008

Keluarga Orang Percaya

Keluarga orang percaya

Berbicara ttg Keluarga artinya kita berbicara ttg persekutuan (kecil) Keluarga : suami, istri, anak-anak. Kalau keluarga itu makin besar, artinya persekutuan makin besar, kita sebuat GEREJA. Gereja terdiri dari gabungan persekutuan keluarga (dari yg kecil – menjadi yg besar). Kalau kita yakin karena iman, bhw Yesus Kristus adalah Kepala keluarga, maka Ia juga adalah Kepala Gereja, Kepala jemaat. (Ep. 1 : 22) (Jemat adalah Tubuh Kristus (Kol. 1 :24)



Dasar dari pembentukan keluarga orang percaya ditetapkan oleh Allah (Kej. 2 : 24, Mat. 19 : 5). Karena itu segala apapun yg telah ditetapkan Allah, kita harus berusaha utk mematuhinya karena itu

Keluarga harus :
- sebagai gereja : mengajarkan ttg
FA dan ttg Kasih dan pengampunan
: sebagai sekolah : Budi pekerti dan semua hal yg baik, disiplin dan tj. Semua yg diajarkan di rumah hrs dilakukan pada masa BALITA
Orangtua sebagai Pendeta dan sebagai guru

Keluarga tidak boleh menjadi seperti : Hotel / Penginapan/ Losmen:
Orang datang hanya utk tidur,
mandi, makan, kemudian pergi,

Yang wajib dilakukan oleh keluarga : Kolose 3 : 12 – 17 ( DASAR )

Keluarga harus merupakan lahan tempat semua benih yg baik tumbuh dan berkembang. : Harus memiliki : Iman sebesar sebiji sesawi
Kasih sebesar sebiji sesawi
Pengampunan sebesar sebiji sesawi
Pengharapan sebesar sebiji sesawi

Keluarga tidak boleh menjadi seperti arena, dimana orang selalu berkelahi dan ada kegaduhan

Anak-anak akan mencontohi apa yg dilakukan orangtuanya.

Pergaulan Muda-Mudi

Katekisasi GPIB
Katkisasi ke20
Sabtu, 7 Febr. 2004

Pergaulan Muda-Mudi
BERPACARAN
Berbicara tentang “berpacaran” tidak terlepas dari berbicara tentang pergaulan muda-mudi. Awal dari orang mulai berpacaran mempunyai dasar pada waktu orang mulai bergaul dan saling mengenal. Dalam jalur pergaulan muda-mudi seseorang mulai belajar mengenal “rasa cinta” sehingga seseorang mulai belajar untuk mencintai dan dicintai. Dalam jalur ini baik pria maupun wanita saling memberikan dirinya dan saling menerima orang lain dalam kehidupannya. Dalam proses ini timbul pula perasaan ingin memiliki dan dimiliki, demikian pula ingin mencintai dan dicintai. Berpacaran berarti orang mulai belajar untuk memupuk rasa cinta dan sayang yang tulus terhadap pasangannya. Makin baik seseorang memelihara rasa cinta kepada tsmannya, makin kekal pula hubungan mreka sebab hubungan itu didasarkan pada rasa cinta yg suci dan tulus. Alkitab meeletakkan dasar supaya mereka yang berpacaran melaksanakan proses itu berdasarkan “kasih” yang Allah telah tetapkan kepada mreka yang berpacaran: “kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15 : 17). Seluruh perasaan cinta yang ditujukan kepada temannya, haruslah dilandasi atas pemahaman yg benar ttg kasih Allah kepada dirinya dan kepada sesamanya, bahwa Allah mnghendaki supaya kita mengasihi ssama kita termasuk pasangan kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bila orang muda kurang memahami dan mengenal kasih itu maka perasaan cinta kepada pasangannya akan berubah dari “cinta yang tulus ikhlas” kepada dan tertuju bagi kepntingan dirinya sendiri (egois) (Pilipi 2 : 1 – 4). Jika nasehat rasul Paulus dapat dipahami dan dilaksanakan dengan benar itu berarti maka secara tidak langsung mereka telah menunjukkan bahwa merreka memahami makna berpacaran scara benar Berpacaran termasuk dalam kateegori “pergaulan intim” (bukan hubungan intim) Berpacaran merupakan langkah bertahap ke pendekatan emosional, pemahaman pikiran, gaya hidup, kebiasaan, sifat dll. Pada masa ini para pasangan diharapkan saling terbuka, berani dan jujur mengeluarkan perasaan masing-masing menuju kematangan mental dan spiritual menjelang pertungan dan pernikahan. Selama masa berpacaran, pasangan muda/I harus jujur seorang terhadap yang lain, beersdia mengeelkuarkan isi hati, berani mengemukakan kebiasaan yg buruk dan yg baik,, kecocokkan dan ketidakcocokkan mereka utk didiskusikan. Masa berpacaran merupakan masa orientasi seseorang terhadap pasangannya. Masa ini juga dapat dikatakan sebagai masa persiapan dan penyesuaian diri, pengendalian diri terutama yg berhubungfan dengan seksualitas. Bila mereka tetap ingat akan Tuhan, memeelihara hubungan kasih mereka serta dapat m3enguasai dan mengendalikan diri meereka, maka firman Tuhan katakan : Bahwa Allah melihat semua itu baik adanya (Kej. 1:31. Yang “baik” mnurut Allah itu perlu dijaga dan dipelihara, dipertahankan, dipupuk, dikasihi supaya kelak “kesucian” hidup mreka dapat dipertahankan sampai kelak mereka tiba pada akhir dari masa berpacaran yaitu pernikahan. Suci. “Jangan berzinah” (Kel. 20 : 14 dan Ul. 5 : 18, 21) mau mngatakan bhw orang muda yg brpacaran harus kuat mengatasi berbagai godaan mlalui pergaulan bebas. Zaman skarang, melaluim pergaulan bebas, orang muda dengan santai “melanggar” nasehat Tuhan demi memuaskan kepentingan diri meereka sendiri. Jangan berxinah bukan ditujukan semata2 bagi orang yg telah menikah ttp maksud dari kalimat ini adalah “jangan mengingini apapu yg bukan miliknya, sebab dngan begitu kita sndiri telah mengotori diri kita sehingga kita tidak suci dan bersih lagi di hadapan Tuhan. Diharapkan melalui masa berpacaran org muda dapat mmikirkan tujuan mereka dan menyeerahkan serta selalu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menyertai perjalanan brpacaran mereka, sebab tujuan akhir dari berpacaran adalah pernikahan. Kasih sayang yg dirasakan selama berpacaran dilukiskan dalam nyanyian Kidung 8 : 6,7. Keindahan cinta kasih itu harus dipelihara dan dijaga kesuciannya. Orang yg sdh matang dalam berpacaran, mreka dengan sukacita akan meemutuskan supaya negara mensahkan hubungan merka yaitu pernikahan negara dan pmberkatan di gereja.

Rabu, 28 Mei 2008

Allah Tri Tunggal (4)

KATAKISASI GPIB


Pokok Bahasan : ALLAH TRITUNGGAL

4 : ROHKUDUS DAN KARYANYA

Berbicara tentang Rohkudus sama dengan berbicara tentang Allah sendiri sebab kata Yesus bahwa Allah itu Roh dan jika seseorang menyembah Dia harus menyembah deng roh dan kebenaran (Yoh 4 : 24). Dalam injil sinoptis, Kisah Rasul dan surat Paulus, Rohkudus disejajarkan dengan Allah Bapa dan Allah Anak dalam keilahian dan kesetaraan (Mat. 28 : 19, IIKor 13 : 13, IPet 1 : 2). Rohkudus juga disebut sebagai Roh Yesus, Kisah 16 : 6,7, RohAllah, Roma 8 : 9, 14; Ikor 2 : 11, Roh Tuhan Kisah 8 : 39, Roh Kristus Roma 8 : 9b, Roh Dia Roma 8 :11?. Jika kita katakan bahwa Allah adalah Roh, itu menunjukkan substansi atau hakekat Allah. Jangan kita katakan bahwa Rohkudus itu baru ada pada waktu hari Pentakosta - hari keturunan Rohkudus

Allah Tri Tunggal

KATAKISASI GPIB


Pokok Bahasan : ALLAH TRITUNGGAL

4 : ROHKUDUS DAN KARYANYA

Berbicara tentang Rohkudus sama dengan berbicara tentang Allah sendiri sebab kata Yesus bahwa Allah itu Roh dan jika seseorang menyembah Dia harus menyembah deng roh dan kebenaran (Yoh 4 : 24). Dalam injil sinoptis, Kisah Rasul dan surat Paulus, Rohkudus disejajarkan dengan Allah Bapa dan Allah Anak dalam keilahian dan kesetaraan (Mat. 28 : 19, IIKor 13 : 13, IPet 1 : 2). Rohkudus juga disebut sebagai Roh Yesus, Kisah 16 : 6,7, RohAllah, Roma 8 : 9, 14; Ikor 2 : 11, Roh Tuhan Kisah 8 : 39, Roh Kristus Roma 8 : 9b, Roh Dia Roma 8 :11?. Jika kita katakan bahwa Allah adalah Roh

Pengharapan Orang Percaya

Katekisasi GPIB

Sabtu, 3 Desember 2005

Pokok Bahasan : Pengharapan orang percaya

Pengharapan berasal dari kata Harap
Pengharapan orang percaya hanya pada Allah. Maz. 38 :16, 39 :8, 42 : 6, 12, 43 :5. Jangan berharap atau berpengharapan pada man usia Yesaya 2 : 22

Pengharapan orang percaya hanya pada Allah sebagai sumbernya Kisah 24 :15,Itim. 1:1, Yer. 14 :22. Berharap pada Allah orang percaya tak akan mendapat malu Maz. 119 : 116

Dasar pengharapan adalah iman kepada Allah IPet. 1 : 13, 21.

Pengharapan selalu berorientasi ke masa depan. IPet 1 :3, sebab orang percaya karena imannya selalu memandang ke masa depan. Masa depan manusia ada dalam tangan Tuhan saja. Orang percaya terpanggil utk meraih masa depan dengan bekerja keras dan berjuan dalam iman dan pengharapan (Maz 104 : 23. Ikor 9 : 10.

Orang percaya menjalani kehidupannya dengan iman dan pengharapan.

Keselamatan Allah Bapa

Katekisasi GPIB
Sabtu, 25 Juni 2005

Pokok bahasan : KESELAMATAN ALLAH BAPA

Bagaimanakah caranya kita mengenal Allah, padahal Allah bukan obyek yg dapat kita lihat atau pegang. Manusia dapat mengenal Allah kalau Allah berkenan menyatakan diriNya untuk dikenal caranya? Dalam PL kita mengenal Allah sebagai Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya. Dengan demikian kalau kita melihat kepada alam semesta ini kita dapat mengerti bahwa alam semesta ini tidak terjadi begitu saja tetapi ada yang menciptakannya. Dalam Kej. 1 : 1. Pada mulanya Allah menjadikan langit dan bumi. Jadi langit dan bumi yg telah diciptakan Allah ini sebenarnya mau mengungkapkan tentang “siapakah Allah itu”. Dengan kata lain alam semesta ini adalah cara Allah menyatakan diriNya kepada manusia. Cara ini yg dikenal sebagai penyataan “umum”. Namun hasil ciptaan Allah ini telah dirusakkan oleh manusia sehingga citra Allah sebagai Bapa Pencipta telah tercemar. Maka Allah perlu memperkenalkan diriNya pula supaya manusia tetap dapat mengenal Allah. Caranya melalui Allah sendiri turun ke dunia melalui anak Allah Yesus Kristus. Cara yg Allah pakai ini meruapakan cara khusus sehingga penyataan ini kita kenal sebagai penyataan khusus.. Jadi ada 2 cara Allah Bapa memperkenalkan diriNya kepada manusia yaitu melalui alam semesta (Umum) dan melalui diri Yesus Kristus (Khusus).

Penyataan adalah cara yang dipakai Allah untuk menyingkapkan hakekat keberadaanNya kepada kita orang percaya. Menurut kesaksian Alkitab Allah tidak hanya menyatakan diri untuk dikenal dari luar diri kita saja tetapi juga dapat dari dalam diri kita. Allah bekerja melalui firmanNya dari LUAR, tetapi juga Allah bekerja untuk dikenal melalui RohKudus dari DALAM diri kita sehingga orang dapat memahami firmanNya (Roma 8 : 11) diri kita adalah tempat tinggal RohKudus (Ikor. 3 : 16). Hanya melalui pekerjaan RohKudus, kita dapat memahami dan percaya bhw Allah yg berfirman kepada manusia, adalah Allah Bapa, Allah Yang Mahatinggi, tetapi yg merendahkan diriNya untuk dikenal oleh manusia.

Dalam kesaksian Alkitab, sebutan Bapa yg dikenakan kepada Allah menunjuk kepada fungsinya sebagai Allah Pencipta segala sesuatu (Ikor 8 : 6, Yakub 1 : 17, 18). Allah adalah Bapa bangsa Israel (Ul 32 : 6, Yes. 63 : 16; Yesaya 63 : 16), Bapa dari Yesus Kristus (Markus 1 : 11, Yoh. 10 : 30, 16 : 28, 17 : 1, 4,5, 20 : 17. :Bapa dari orang percaya (Mat. 5 : 45; 6 : 6, 9, 14; Roma 8 : 15. Kalau Allah menjadi Bapa orang percaya, berarti Allah bertanggungjawab untuk kehidupan dari makhluk yg Ia ciptakan (Mat. 6 : 26; 27 – 32 Maz. 34 : 11, 104 : 21). Manusiapun memohon dari Bapanya : Berilah kepada kami hari ini, makanan kami yg secukupnya Mat. 6 : 11 – doa Bapa kami. Dengan demikian kita mengerti bhw Allah Bapa sebagai Pencipta bukanlah setelah Ia menciptakan lalu meninggalkan begitu saja, tetapi Allah itu juga adalah Allah Pemelihara dan Allah yg memerintah alam semesta ini. Oleh pemeliharaan Allah Bapa yg menciptakan dunia ini, maka dunia ini tetap kokoh berdiri dan oleh perintahNya dunia ini berjalan menuju tujuan dari rencaNya. Karena itu Allah turut menentukan perjalanan dunia ini, sehingga jelas bagi kita bahwa Allah Bapa. ikut bertindak menyelesaikan berbagai perkara dan bahkan menindak bangsa-bangsa yg menyimpang dari jalan Allah.. Allah Bapa menunjukkan kemurahanNya dengan tetap setia memelihara umat manusia pada segala keadaan agar pemerintahaNya terus berjalan untuk mengarahkan sejarah supaya tiba pada tujuan yg dikehendaki Allah sendiri..
Jika kita mengakui bhw dunia ini milik Allah, maka panggilan kita adalah supaya bekerja bersama Allah utk memelihara dan melestarikan dunia ini dengan cara :
- menata, mengola alam sesuai dengan kehendak PenciptaNya
- kita dapat mendayagunakan alam utk kesejahateraan dan kebahagiaan umat manusia, dengan demikian kita memuliakan Allah atas kebaikanNya bagi kita.
- Kita selalu dan terus-menerus harus bergantung kepada Allah, mengucap- syukur serta berbakti dengan sepenuh hati kpada Allah Pencipta kita.

Manusia Makhluk Berdosa

Katekisasi GPIB


Katekisasi ke 17

Sabtu, 17 Jan. 2004

Manusia Makhluk berdosa

Dalam pelajaran yg lalu telah dijelaskan bhw Allah mencipotakan manusia utuh, sempurna dan baik. Manusia diberikan nafas hidup oleh Allah, menerima wewenang, kuasa serta tanggungjawab mengelola alam. Penulis kitab Kejadian juga menggambarkan ttg sifat manusia yg jahat yg memberontak kepada Allah yg mengakibatkan hubungan baik dengan Allah menjadi putus dan rusak. Manusia menjadi tidak setia kepada Penciptanya. Manusia jatuh ke dalam dosa karena ulahnya sendiri. Rasul Paulus menjelaskan hal ini dengan mengatakan : “tidak ada yang benar seorang pun tidak, semua telah berbuat dosa dan hilang kemuliaan Allah. (Roma 3: 10, 23.). Kata-kata Paulus ini dapat dipahami berdasarkan pemahaman bhw dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (Roma 5 : 12) yg mengakibatkan semua orang menjadi berdosa. Penyebab dosa ini ialah …………….?
Manusia - sejak Adam dan hawa jatuh ke dalam dosa, ikut berdosa.. Dosa di sini tidak hanya dirumuskan sebagai “kejahatan” atau “kesalahan” saja, tetapi menyangkut “keeberadaan” – eksistensi dan “hakekat manusia” Yes. 29:13, Mat. 15:8,9. Dosa itu nampak melalui sikap hati yg menolak pengenalam akan Allah, emgakui Allah sbagai Juruslamat, Pemberi hidup dan khidupan bagi manusia dan makhluk ciptaan yg lain. Tidak itu saja tetapi dosa juga nampak dalam ketidak harmonisan manusia dengan sesamanya dan pngrusakkan alam ciptaan Allah. Dosa dapat dirumuskan juga dalam perbuatan yg menyimpang dari kebenaran dan kebaikan mnunjukkan sikap perlawanan terhadap Allah. Ini terjadi dalam diri seseorang yg mendorong dia untuk melakukan tidndakan bersalah yg membuat ia berada dalam kesulitan (Kej 4 :13)
Dosa dengan kata lain dapat diartikan sebagai “tidak tepat pada sasaran”. Karena itu setiap tindakan “baik” yg tidak kena pada sasaran adalah sia-sia (Rom 3 : 9 – 20). Manusia pada suatu saat bisa tidak berbuat dosa (Adam dan Hawa sebelum makan buah…… dann jatuh ke ……) Akan tetapi setelah kedua manusia I itu memakan buah maka pasti bahwa manusia “tidak bisa tidak…………..” manusia pasti berbuat dosa. Sebab :
Manusia tidak lagi tinggal di taman Edn. Mreka harus menjalani kodrat sebagai akibat dari kutukan Allah kepada Adam dan hawa.
Manusia memeeliki kecendrungan hati yg jahat sehingga kadang2 menolak jalan kembali kepada Allah.
Manusia yg telah mengetahui Firman Allah itu malah mengadakan perlawanan trhadapDia. Kritik Yesus teerhadap para ahli torat menjelaskan hal itu.
Pernyataan Yesus sendiri ttg kasih Allah supaya dunia tidak tetap tinggal dalam dosa ttapi mmperoleh keselamatan. Perbincanngan Yesus dengan Nicodemus si Parisi dalam Yoh. 3 merupakan penjelasan ttg kasih Allah kepada dunia ini. Dengan dmikian “dosa” bukanlah sebuah “insiden” kecelakaan” dan bukan pula sebuah perbuatan “kebetulah yg terpaksa” dilakukan manuysia, tetapi ia merupakan sikap hati yg jahat kepada Allah dan kepada sesama.. Dilakukan dalam kesadaran. Dosa terkait dengan isi kehedipan dan keberadaan manusia sehingga kita tidak bisa gampang mengatakan bhw itu hanya sebuah perbuatan yg “kebetulan” terjadi tanpa mngikutsertakan kesadaran kita .
Dosa bukan juga semata-mata tindakan jasmani belaka namun sikap ekspresif itu mencerminkan sikap hati manusia yg jahat. Kepada Allah.

Gereja / Jemaat

Katekisasi GPIB

Katekisasi ke 18

Sabtu, 24 Januari 2004
Pengertian tentang Gereja/Jemaat

Menurut kesaksian Alkitab, jika berbicara ttg Jemaat selalu terkait dengan Kristus karna Jemaat tidak pernah berdiri sendiri tanpa hubungan yg mendasar dengan Kristus, sebab ada kesatuan antara Kristus dengan JemaatNya. PB melukiskan kesatuan ini sbb.: Jemaat adalah anggota dari satu tubuh (Ikor 12:12); Jemaat berada di bawah satu kuasa ialah satu Tuhan yg adalah Kepala tubuh (EF 1:22,23; 4:15, 5:23, Kol. 1:18).Jemaat adalah batu hidup (Ipt. 2:9,) Yesus adalah Pokok Anggur, Jemaat adalah carangnya (Yoh. 15). Yesus adalah Gembala, dan Jemaat adalah dombaNya (Yoh. 10). Dari gambaran dmikian kini dapat dipahami bhw Jemaat tidak dapat dimengerti tanpa hubungan dan kaitan erat dengan Kristus, sebab itu kita sebagai satu tubuh tidak boleh ada perbedaan suku, asal-usul, warna kulit kaya-miskin serta tingkat sosial dalam hidup.
Jemaat tidak didirikan oleh orang-orang tertentu, meskipun orang2 tertentu dipakai sebagai alat dalam tangan Tuhan. Kalau didirikan oleh orang2 tertentu, mereka akan berbangga hati dan sombong seolah-olah merekalah yg mendirikan jemaat sehingga peranan Rohkudus hilang dan tenggelam. Jemaat itu ada karena kehendak Kristus. Kristuslah yg membangun Jemaat (Mat. 16: 16 –19. orang percaya yg membentuk persekutuan jemaat adalah mereka yg mmberi diri dibaptis setelah mendengar pemberitaan Firman (Kisah 2:1) Kita yg menjadi suatu Jemaat adalah karena kehendak Kristus, persekutuan yg dikumpulkan oleh Tuhan di suatu tempat tertentu. Jadi

Jemaat (Greja) adalah persekutuan orang percaya yg dikumpulkan Tuhan. Kehadiran mereka nampak dalam Persekutuan, Pelayanan, Kesaksian. Tri panggilan gereja ini diatur secara tertib atas satu dasar dan satu kepala: dasar, Ikor 3:11, Kepala Ef 1:22; Kol. 1:18, 2:19). Dalam persekutuan tersebut (persekutuan semua orang percaya), semuanya mendapat bagian dalam keselamatan yg dianugerahkan Allah dalam Kristus yaitu keselamatan untuk seluruh umat manusia. Melalui kesaksiannya, jemaat terpanggil utk membagikan keselamatan yg telah mereka terima itu kepada orang lain. Penyampaian kesaksian ini melalui pemberitaan yg berisi proklamasi ttg janji penggenapan bhw Allah berkenan menyelamatkan manusia melalui Karya Kristus di dunia. Pemberitaan tersebut tidak saja melalui berita firman, tetapi juga melalui perbuatan/tindakan (diakonia).

Bentuk-bentuk pelayanan Gereja/Jemaat.
Gereja /Jemaat itru hidup bila di dalam gereja/jemaat itu nampak kesibukan dalam kegiatannya. Kegiatan dalam jemaat/gereja itu a.l.:
- Kebaktian: Kebaktian hari Minggu; Pelayanan Sakramn, Peneguhan Sidi, Peembrkatan Nikah, kebaktian keluarga/seektor, pemakaman/pemakaman kembali, kremasi, Peneguhan pejabat gereja, hari raya grejawi, hari raya Nasional, pentahbisan gedung gereja.. Seluruh kebaktian tsb menggunakan tataibadah dari lembaga yg bertanggungjawab (Sinode – gereja setempat)
- Pelayanan Sakramen. GPIB hanya mngenal dan mengakui serta melaksanakan Sakramen Baptisan kudus dan Perjamuan Kudus.. Baptisan dilayani kepada anak-anak dan orang dewasa. Perj.Kudus hanya dapat diikuti oleh anggota jemaat dan yang sudah sidi. Pelayanan Sakramen hanya dapat dilaksanakan oleh Pendeta. Bila Pendeta berhalangan, Majelis dapat menunjuk seorang Penatua melakukannya tetapi kemudian melaporkan kepada Sinode. Perj. Kudus di GPIB dilaksanakan pada : Jumat Agung, minggu keempat Juli, minggu I Oktober (Perjamuan Kudus sedunia), minggu Adven ke 3. Pelayanan Sakramen, pemberitaan Firman dan ajaran gereja dijaga kemurniannya oleh Majelis dan para pejabat gereja.
- Katekisasi. Katekisasi adalah pelayanan gereja utk pertumbuhan iman warga jemaat. Maka gereja/jemaat dalam tanggungjawabnya dalam hal ini Majelis jemaat melaksanakan katekisasi bagi pemuda/i dan warga lainnya utk diteguhkan menjadi warga sidi gereja. Katekisasi merupakan mata-rantai kegiatan pembinaan Gereja yang dimulai sejak anak sampai orangtua.
- Pelayanan Kategorial. Untuk menyelenggarakan panggilan dan pengutusan gereja serta pembinaan warga gereja, maka dibentuk bidang2 pelayanan dalam gereja yg disebut bidang Katgorial a.l.:
a. Pelayanan kepada anak (PA)
b Pelayanan kepada Taruna (PT)
Pelayanan kpada Pemuda (GP)
Pelayanan kepada Wanita (PW)
Pelayanan kepada kaum Bapak (PKB)
Pelayanan kepada kaum Lanjut Usia (Lansia)

Penggembalaan. Adalah tugas khusus Pendeta dan majelis dilakukan secara permanen dalam jemaat. Penggembalaan menyangkut berbagai aspek kehidupan. Pelayanan ini dimaksud membimbing jemaat agar terbuka mengemukakan permasalahan dan pergumulannya agar jemaat tiba pada titik dapat mengambil keputusan sendiri yg tepat. Pergembalaan dapat dilaksanakan melalui cara:
- Majelis datang secara mendadak ke rumah jemaat (perkunjungan biasa)
- Majelis datang karena mendengar ada masalah dalam keluarga jemaat
- Majelis datang karena diundang oleh jemaat
Pergembalaan ke rumah jemaat dilakukan paling sedikit oleh 2 orang majelis.