Jumat, 29 Mei 2009

Berbuat Baik Kepada Sesama

Hotbah Ambarawa

Minggu, 8 Febr. 2009

Nats Pemb. Galatia 6 : 9 - 10

Amanat HB. IPetrus 3 : 8 - 12

Bacaan : Markus 3 : 1 – 6

Sdr. Judul dari renungan ini adalah: Berbuat baik kepada sesama

Dua pokok penting yaitu: Berbuat baik kemudian sesama:

Dalam penuntun renungan ini di buku SGD, Sinode mengambil contoh ttg berbuat baik dan sesama melalui peristiwa gempa di Yogyakarta bulan Mei thn 2006. Sejumlah ibu RT di dusun Gonogiri Sleman Yogyakarta, menyiapkan nasi bungkus dan disumbangkan kepada korban bencana tsb. Tak ketinggalan warga gereja Jemaat GPIB Margomulyo Yogyakarta melakukan hal yg sama. Dalam melihat kesulitan orang lain karena musibah gempa, maka hati kita tergerak untuk melakukan sesuatu. Warga gereja mengumpulkan bahan2 makanan dan keperluan lain untuk diberikan kepada mereka yg menderita. Perbuatan baik ini dapat dilaksanakan karena ada dorongan kasih yg didasarkan atas iman lalu digerakkan oleh kuasa Rohkudus untuk melakukan sesuatu. Rohkudus selalu mengajar kita untuk melakukan perbuatan baik kepada sesama.

Sebagai orang percaya, kita punya iman dan dari dasar inilah kita terpanggil untuk melakukan perbuatan kasih karena iman tadi. Dalam berbuat baik kita tidak boleh terikat dengan prosedur dan tata cara agamawi. Kita lihat kepada bacaan kita: Sebenarnya ada aturan agama yg saat itu dipegang erat oleh petinggi agama waktu itu yaitu: para Imam dan orang Farisi. Aturan agama waktu itu sangat mengikat dan orang tidak boleh melanggar aturan yg telah ditetapkan. Antara lain bahwa pada hari Sabat orang tidak boleh bekerja. Bacaan kita menyebutkan bhw Yesus melakukan pekerjaan justru pada hari Sabat dan ini bertentangan dengan aturan agama waktu itu. Waktu orang Farisi melihat bhw Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, itu menjadi alasan bagi mereka untuk menjerat Yesus kemudian bersekongkol untuk membunuh Dia. Dalam Matius 5 : 17 dikatakan: Bhw janganlah kamu sangka Aku datang untuk meniadakan Hukum Torat melainkan untuk menggenapinya.

Sdr. Yesus bukan tidak perduli ttg aturan agama tetapi bagi Yesus yg diutamakan adalah berbuat baik kepada sesama. Karena itu waktu Ia melihat seorang pemuda yg mati tangfan sebelahnya Ia tidak sampai hati, lalu dengan tegas Ia menyuruh orang itu berdiri di tengah-tengah jemaat lalu menyuruh mengulurkan tangannya lalu tangtan itu sembuh, normal seperti biasa. Kesem,patan inilah dipakai oleh orang Farisi sebagai alas an untuk membunuh Yesus.

Sdr. Kita sebagai orang percaya juga terpanggil untuk berbuat baik. Kadangkala kita masih terikat dengan factor-faktor duniawi: Dia bukan segereja dengan kita, dia bukan seagama dengan kita, dia bukan sdr kita, kita belum kenal orang itu, jadi buat apa kita berbuat baik kepada mereka?? Perbuatan baik kepada seseorang secara tulus adalah geraakan Rohkudus. Perbuatan baik yg digerakan oleh kuasa Rohkudus, tidak pernah membatasi dan tidak pernah menyeleksi asal gereja dan latar belakang seseorang. Orang yg susah adalah pribadi, manusia yg perlu mendapat pertolongan. Andaikata kita mampu memberi pertolongan kepada seseorang, berilah dengan tulus ikhlas sebagai wujud dari panggilan iman dan wujud dari ajaran Kristrus supaya mengasihi sesama yg menderita.

Sdr. Yesus melihat jauh ke dalam hati orang Farisi yg penuh dengan kedegilan dan Yesus marah. Yesus mau menunjukkan kepada mereka makna kedatanagnNya ke dalam dunia yaitu menyembukan orang sakit, mentahirkan yg lumpuh, mengobati mata yg buta supaya dapat melihat lagi serta membangkitkan yg telah mati.

Sdr. Kita. sdr dan saya, kita dapat lakukan apa?? Banyak yg dapat kita lakukan, asal kita bersedia dengan tulus ikhlas. Iman kita mengajarkan supaya kita memberi maaf kepada aorang yg bersalah kepada kita, kita kunjungilah teman yg sakit, dan singgalah di rumah sdr yg sedang dalam pergumulan. Kita duduk sejenak dengan mereka, lalu berbicara untuk menguatkan iman, menguatkan hati mereka serta berbiacara yg memberikan mereka penghiburan. Itulah panggilan kita sebagai orang percaya dalam hidup masa kini. Mungkin kita tidak bisa memberi jalan akeluar secara materi, karena kita juga terbatas, tetapi paling sedikait memberi kekuatan dan pengharapan melalui kehadiran serta bicara kita. Tuhan memperhatikan dari tempat yg Tinggi apa laku baik kita yg kita lakukan kepada sesama kita. Kita tidak seperti Yesus lyg dapat menyembuhkan secara lanagsung orang dari sakit sepertti yg mati tangan ini, tetapi kita dapat menyembuhkan hati orang yg sakit melalui kehadiran dan kata-kata kita. Semua perbuatan baik yg kita lakukan, menjadi berkat dan itu merupakan panggilan dan tanggungjawab kita masing-masing terhadap sesama kita.

Pertanyaan terakhir: Apakah kita di sini, jemaat Ambarawa juga sudah melakukan seperti yg Yesus lakukan?? Bukan menyembuhkan orang yg mati tangan sebelahnya, tetapi paling sedikit kita sudah menggerakkan hati sesama kita yg hatinya telah lama mati dan imannya telah membeku untuk datang bertemu dengan Tuhan dan bertemu dengan sesama persekutuan di sini? Masih ada waktu bagi kita untukdapat melakukan banyak hal yg baik yg Tuhan kehendaki dari kita.
Amin

Tidak ada komentar: