Jumat, 29 Mei 2009

Kembangsari 2 Nov '08

Hotbah Kembangsari

Minggu, 2 Nov. 2008

Pemb. Zacharia 7 : 1 – 14

Sdr. Judul yg tertera dalam SGD: Tunjukkan keadilan dan kasih sayang kepada sesamamu.

Sdr. Kita bersyukur kepada Tuhan, sebab tidak sanga-sangka kita sudah memasuki bulan-bulan terakhir dari thn ini. Perjalanan panjang telah kita lalui bersama yg dalamnya masing2 mengalami jatuh-bangun senang dan susah semuanya silih berganti sebagi bagian dari kehidupan manusia yg telah jatuh dalam dosa. Itu bukan berarti walaupun kita telah berdosa, Tuhan lalu meninggalkan kita dan tidak perduli dengan kita. Dekat jauhnya Tuhan dari kita, itu tergantung dari bagaimana kita memberlakukan hidup ini bagi Tuhan dan bagi sesama.

Bacaan kita pagi ini berbicara ttg ibadah puasa yg baik.

Sdr: Ibadah, puasa menurut pengertian umum itu terjadi dalam

Kebaktian, tetapi juga di luar kebaktian. Kita datang beribadah, di sana kita bertemu dengan Tuhan dan bertemu dengan sesama. Kita menyanyi, berdoa, membaca mendengar dan merenungkan Firman Tuhan, kemudian kita kembali ke rumah. Kalau demikian maka ibadah itu hanya terjadi sebentar kurang dari 2 jam dalam seminggu waktu kebaktian seperti ini.

Sdr. Pertanyaan yg diajukan oleh utusan dari Babilonia dan dari Betel dalam bacaan kita adalah mau mencari tau apakah puasa yg sudah biasa dilakukan untuk memperingati tragedy ttg kehancuran bait Allah apa perlu terus dilakukan, karena sekarang sudah aman (puasa bln ke 5) dan kemudian pembunuhan Gubernur Yerusalem Gedalia (puasa bulan ke 7) pantas terus diperingati? Pertanyaan itu dijawab oleh Tuhan dengan jawaban negatip: bahwa iabadah dan puasa yg selama ini dilakukan Israil tidak dengan sungguh-sungguh hati karena itu tidak berkenan dan tidak diterima di mata Tuhan. Mereka melakukan ibadah dan puasa, makan dan minum, bukan sebagai suatu persembahan ucapan syukur atas keamanan dan kesejahteraan tetapi hanya utk kepuasan diri sendri. Jadi kalaua begitu bagaimanakah ibadah yg benar yg dapat diterima oleh Tuhan?? Kita tidak bisa seperti penduduk Betel yg mengutus Sarazer dan Regem Melekh serta orang2nya untuk melunakkan hati Tuhan (:2). Bagaimanakah caranya kita bisa melunakkan hati Tuhan??Apa bisa kita manusia warga Kembangsari, sdr dan saya dapat melunakkan hati Tuhan?? Kita punya apa yg dapat kita persembahakan supaya hati Tuhan yg keras itu dapat lunak, dapat jinak?? Dengan ibadah tiap hari minggu? Atau dengan ibadah tiap hari Rabu 2 minggu sekali?? Atau mempersembahkan PTB yg banyak tiap bulan?? Ataukah rajin mempersembahkan iuran bulanan?? Bacaan kita menyebut bhw orang Israil sudah berpuasa, menangis serta berpantang dalam banyak hal yg semuanya untuk melunakkan hati Tuhan. Apakah yg telah dilakukan Israil itu melunakkan hati Tuhan?? Apakah segala perbuatan baik kita harapkan dapat melunakkan hati Tuhan atas berbagai kesalahan kita??

Ibadah yg benar bukan saja terjadi dalam kebaktian hari minggu seminggu sekali, tetapi yg dikehendaki Tuhan adalah : Laksanakanlah hukum yg benar dan tunjukkan kesetiaan dan kasih sayang kepada masing2: Pelaksanaan hukum yg benar selalu berkaitan dengan keadilan. Oleh karena itu dalam melakukan hukum itu pelaku harus bersikap adil dan penuh dengan kasih. Jangan menindas para janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing atau sesamamu.

Jadi dengan kata lain bahwa ibadah yg benar itu adalah bagaimana kita memberlakukan pemahaman Firman Tuhan yg kita dengar dan bagaimana kita wujudkan iman kita dalam hidup bersama orang lain di luar hari minggu pada setiap hari dalam hidup kita.

Sdr.Memang Zacharia diminta menyampaikan kritik kepada cara ibadah Israil. Mereka melakukan ibadah dan puasa, tetapi rupanya hal itu lain dari ibadah dan puasa yg dikehendaki Allah. Kalau begitu ibadah dan puasa Israil hanya tertuju kepada dirinya sendiri, artinya supaya orang lain memandang bhw mereka kusuk dalam ibadah dan puasa, tetapi dalam hati mereka masih menyimpan dendam dan sakit hati, kurang ada kasih sayang kepada para janda, orang miskin dan orang asing. Padahal Tuhan selalu berpihak kepada orang yg lemah, para ajanda dan orang asing yg tidak punya tempat bernaung.

Sdr. Apakah seruan Zacharia ini kena-mengena dan menyinggung kita juga? Apakah kita tidak melakukan kasih dalam hidup beriman kita?? Zakaria tidak hidup bersama kita untuk melihat bagaimana kita sudah melakukan Firman itu meskipun tidak sempurna. Kita sedang berusaha kalau boleh dapat melakukan sebagian kecil saja dari permintaan Zakharaia. Kita sudah datang mengunjungi tetangga yg mengalami berbagai masalah dalam hidup( entah anaknya belumn lulus, entah anaknya belum mendapat tempat pekerjaan baru, entah ada yg sakit dalam keluarga, pendeknya ada masalah dan kami sudah datang menyenguk mereka. Jadi kami mau katakana kepada Zakaria bhw Nasehatmu telah kami lakukan. Kami telah tunjukkan kesetiaan dan kasih sayang kami kepada sesama. Kami tidak menindas para janda dan anak yatim, bahkan kami mengasihi orang asing yg sedang menumpang di rumah kami.

Dengan demikian kami akan mohon kepada Tuhan, agar kiranya Tuhan berkenan mendengar doa dan teriakan minta tolong kami. Kiranya Tuhan juga berkenan menerima ibadah dan puasa yg kami lakukan sebab Tuhan menilik hati kami, bagaimana dengan penuh dosa dan salah kami berserah mohon pengampunan, mohon kiranya Bapa berkenan menyahuti serta mengabulkan permohonan yg kami naikkan kepada Bapa di Sorga.


Amin.

Tidak ada komentar: