Senin, 31 Maret 2008

Sektor 5 Maret 2008

Rabu, 5 Maret 2008
Pembacaan : Yoh. 4 : 13 – 15

Bacaan kita sore ini berbicara tentang percakapan Yesus dengan wanita Samaria di tepi sumur. Kenapa sampai Yesus bisa tiba di tepi sumur oleh karena pelayananNya mula-mula di Yudea, tetapi karena Ia mendapat perlawanan dari orang Farisi di Yudea, maka Yesus ingin kembali saja ke Galelea (4:1-4). Supaya menghemat waktu dan tenaga, maka Yesus ambil jalan pintas melewati kampung orang Samaria. Kini Yesus duduk di tepi sumur sementara para murid pergi membeli makanan. Tiba-tiba datang seorang perempuan Samaria hendak menimba air di sumur ini yg dikenal sebagai sumur Yakub. Tiba-tiba Yesus meminta minum dari wanita ini.

Wanita ini kaget sebab ada seorang pria Yahudi duduk di sumur dan meminta minum dari seorang wanita Samaria. Sebagaimana kita tahu bahwa orangYahudi tidak beramah-tamah dengan orang Samaria sebab orang Samaria adalah bangsa campuran dari beberapa bangsa (IIRaja 17 : 24 –41). Salah satu bukti kuat tentang perpisahan ini adalah bahwa: Orang Samaria tidak diperbolehkan ikut membangun baith Allah di Yerusalem. Hati wanita ini senang seolah-olah akan mendapat pertolongan dari Yesus karena mengharap Yesus dapat membantu menimba air dari sumur yg dalam itu ( + 25 metere dalamnya) Pada sisi lain, dalam hati wanita ini bertanya-tanya mengapa pria Yahudi ini mau menyalahi kebiasaan dan sikap permusuhan ini. Bukankah tujuan Yesus datang ke dalam dunia justru untuk mendamaikan manusia dengan Allah dan manausia dengan manusia, orang Yahudi dengan orang Samaria. Kita juga ingat bagaimana peranan orang Samaria dalam perumpamaan ttg orang Samaria yg murah hati (Lukas 10 : 33 – 37).

Dalam pembicaraan antara Yesus dan perempuan ini, ada beberapa hal yg tidak bisa dipahami oleh perempuan ini misalnya: karunia Allah dan air hidup. Karunia Allah adalah air hidup yang diberikan oleh Anak Allah Yesus Kristus sumber kehidupan. Tetapi wanita ini hanya sanggup memikirkan hal-hal yg bersifat bendawi, sebab ia melihat tangan Yesus kosong tidak ada timba padahal sumur ini terlalu dalam, bagaimana Yeus bisa menawarkan air yg hidup kepadanya?? (:11)

Yesus tidak memikirkan hal bendawi/duniawi tetapi ia melihat bahwa wanita ini sedang dalam dahaga rohani yg tidak bisa dipuaskan oleh materi apapun di dunia ini termasuk air dari perigi Yakub ini. Yesus coba menjelaskan bhw Ia dapat memasang pancaran air hidup, sumber hidup kekal dalam hati wanita ini. Tetapi kasihan, sebab perempuan ini hanya membayangkan air biasa yg ditimbanya setiap hari yg mungkin Yesus dapat berikan kepadanya secara misteri dan barangkali juga memakai tenaga gaib. Tetapi yg terjadi adalah bhw wanita ini disadarkan, ada harga yg harus dibayarnya. Harga apa itu?? Kehidupan dan masa lalunya harus terpampang dalam bayangannya sebagai buku yg terbuka lebar, agar dengan melihat isi buku itu, ia sadar akan betapa perlunya ia mengalami penyucian.

Yesus sebagai sumber air hidup akan mencuci semua kesalahan dan dosa kita oleh pekerjaan Rohkudus yg kita imani. Rohkudus adalah Roh Yesus juga sebagai air sejuk yg menghapus segala dahaga orang percaya karena dosa dan kesalahan mereka. Kita tidak lebih baik dari perempuan Samaria ini. Kita semua sekarang sedang dahaga oleh karena itu kita semua sekarang juga perlu membuka hidup kita di hadapan Allah supaya terpampang segala salah dan dosa kita, lalu dengan iman dan pengharapan kita datang kepada Yesus memohon kiranya Ia memberikan kepada kita air hidup yg terpancar dari kasihNya yg menyucikan segala dosa kita melalui salib dan kebangkitanNya. Kita janganlah terikat terlalu dengan soal-soal lahiriah kita sebagaimana kata Yesus kpd perempuan itu. Barang siapa minum air ini, ia tetap akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yg Yesus akan berikan, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yg diberikan Yesus itu akan menjadi mata air di dalam dirinya yg terus menerus memancar sampai kepada hidup yg kekal. Jadi jelas sdr. Jika kita terima Yesus, maka didalam diri kita ada Rohkudus yg diumpamakan sebagai air hidup dan dengan begitu kita bisa menjadi sumber air untuk memancarkan kebaikan Tuhan kepada orang lain. Janganlah kita mematikan sumber air yg ada dalam diri kita tetapi hendaklah kita pertahankan air hidup itu sebagai anugerah untuk kita masing2 yg percaya. Bagaimana caranya kita memberikan air hidup itu??

Melalui hidup kita sendiri, kata-kata, tindakan kita dan tegur sapa kita kiranya dapat bamenjadi air yg menyejukkan orang lain supaya dengan demikian orang dapat katakan bhw benar-benar kita adalah anak Tuhan yg membawa kesejukkan bagi orang yang dahaga.

Amin.

Tidak ada komentar: